Hari ini (31/7), seperti biasa saya berangkat kerja dengan menggunakan busway. Tidak seperti biasanya saat menuju di halte Busway BKN-Cawang, saya melihat seorang pengemis perempuan dan anaknya, kira-kira usianya 3-4 tahun, sedang tidur di jembatan penyebrangan. Anak sekecil itu yang harusnya tidur di tempat yang layak namun sekarang justru tidur beralsakan koran di jembatan penyebrangan…
Melihat kejadian itu, saya lantas bertanya, dimana negara? Bukankah fakir miskin dan anak terlantar harusnya dipelihara negara? Apakah negara sudah mati? mereka benar-benar dihinakan….
Ternyata negara masih ada kok, lihat saja negara yang dipimpin oleh presiden hasil pemilu langsung 2004 ini dengan berbesar hati mengucurkan miliaran rupiah untuk mengambilalih tanggungjawab Lapindo yang telah menenggelamkan kawasan porong dengan lumpur panasnya lho…ini bukti bahwa negara masih ada, tapi ya itu tadi keberadaan negara hanya untuk orang-orang kaya seperti pemilik Lapindo itu.
Nah, kalau keberadaan negara hanya untuk orang kaya mengapa pula para elite politik dalam setiap kampanye pemilu selalu mengumbar janji bahwa bila nanti terpilih akan mengentaskan sebagian besar warga dari jurang kemiskinan? Mengapa setelah menjabat mereka meninggalkan orang-orang miskin?
Ah,…memang mereka semua pembohong…lantas, apakah kita akan memilih para pembohong itu menjadi wakil kita bahkan presiden kita pada pemilu 2009? Rasanya tidak, cukup sudah kita diludahi dari atas kereta kencana oleh para pangeran hasil pemilu setiap lima tahun itu… GOLPUT bukan sekedar pilihan namun sebuah perlawanan..
Kesadaran adalah Matahari….


