dia, punya mata yang sepet, tinggi, berkaca mata, berkulit cerah, dengan seulas bibir yang merah, dan lesung pipit kanan yang comel. kali pertama, melihat dia, manis, wajah yang serius, tapi, senyumannya manis, tertancap tepat dalam hati. dia, membuatkan hati bernafas kembali, luka lama hanya tinggal parut kekal, tapi, auranya menyembuhkan, segala gundah yang tercipta dalam hati. dia tinggi, aku rendah, dia pluto, aku marikh, punya beza idealogi diri. tapi, tetap jua ada persamaaan, jari seni, ya jari seni, yang setia menjadi medium kita.