RSS

Babies



Hari Sabtu, 20 November 2010, saya nonton film ini sama Cota...
Film ini ceritanya tuh tentang 4 bayi yang lahir di lingkungan berbeda.
Film ini benar-benar menunjukkan keajaiban menurut saya. Betapa hebatnya manusia, dan Tuhan pastinya, karena Dia yang menciptakan manusia. Meskipun di lingkungan yang berbeda-beda, manusia tetap bisa "survive" karena apa?! 1 kata yang paling pantas menggambarkannya adalah CINTA.

Ponijao, lahir di Opuwo, Namibia. Dengan segala keterbatasannya, pakaian (atau lebih tepatnya tidak pakai pakaian haha..), lingkungan tempat tinggal yang sangat natural, tidak ada bangunan, yang ada hanya pasir yang membentang dari ujung ke ujung, saudaranya banyak banget pula...Apa yang terjadi dengan bayi ini?! Dia tetap bisa hidup tuh, malahan badannya gendut dan lucu, wajahnya juga selalu menebar senyum hihi....;p

Mari, lahir di Tokyo, Jepang. Mari, anak tunggal yang cukup beruntung lahir di Jepang dengan segala kelimpahan yang ia dapat. Jepang terkenal dengan negara yang "Sibuk", tentu saja orang tua Mari juga sibuk, terkadang terlihat Mari bermain sendirian sih, tapi mama-papanya sayang sama Mari. Tumbuh kembangnya baik, mama-nya membawa Mari ke "preschool" (atau whatever mereka sebutnya ya...), punya banyak mainan, merayakan ulang tahun, dan lain-lain. Yang paling lucu dari Mari adalah ekspresinya waktu sedang kesal, hihi....^^

Bayarjargal (nama yang agak aneh di telinga saya), lahir di wilayah Bayanchandmani (tempat apa pula ini, haha), Mongolia. Lingkungan tinggalnya itu peternakan bersama para sapi dan kambing. Bayar sering dikerjain sama koko-nya sampe nangis, sering main-main ke luar bersama para sapi dan kambing, lucuuuuu.....;)

Terakhir, Hattie. Ia lahir di San Fransisco, California. Nah kalau dia ini hidupnya benar-benar enak super enak. Semuanya tersedia, mainannya banyak, mamanya sering bacain buku cerita, dan lain-lain. Orang-orang di sekitarnya sangat supportive dan selalu nemenin Hattie main. Hattie ini dari ketiga bayi lain pembawaannya paling kalem dan manis, haha....

Senang sekali deh nonton film ini, apalagi karena gratis dan ditemanni teman baik saya, hehehe....horeee....
Film ini benar-benar menunjukkan keajaiban buat saya, sangat berkesan...^^
Apalagi ekspresi para bayi yang polos, lucu sekalii....^^v
Kalau mengingat masa lalu sepertinya banyak hal yang ingin kuubah, salah satu-nya adalah kenangan bersama Emak (emak = oma).
Emak-ku (dari papah) sangat baik. Emak sangat sayang sama cucu2-nya termasuk saya. Emak adalah wanita yang hebat, penyayang, tegas, dan kreatif. Emak pinter masak, pinter menjahit, pinter jualan, pinter berteman, pinter berhemat, dan pinter semuanya!!! Emak juga sayang sama semua saudara2nya, sayang suami dan anak, sayang cucu, sayang keponakan, sayang temennya juga...

Dulu waktu Emak masih hidup, aku sering dibikinin baju, daster, dibikinin makanan enak, ager-ager, kue, dibeliin ini itu yang papah mamah ga mau beliin, pokoknya Emak baik banget deh...Setiap kali Emak dateng dari Semarang selalu ga lupa bawa oleh-oleh buat cucunya di Jakarta. Kalau di Jakarta, Emak suka ikut senam pagi sama temen-temennya, aku juga suka dibangunin pagi2 ikutan Emak senam, tapi aku sama cici naik sepeda. Aku sayang banget sama Emak!! Sampai suatu saat pernah ada kejadian yang entah bagaimana membuatku jadi salah paham sama Emak sayang. Bahkan sekarang saya malah udah lupa kejadiannyanya gimana. ga inget juga berapa lama sejak kejadian itu, aku mulai jahat sama Emak.

Emak kena penyakit stroke (kejadiannya di Semarang) sejak saat itu, Emak udah gak tinggal di Semarang lagi tapi di bawa ke Jakarta, tinggal sama keluargaku (soalnya papah kan anak tunggal). Pokoknya dulu begitu Emak sakit, aku jadi sebel sama Emak. (banyak kejadian lah pokoknya) Selain sebel juga aku jahat sama Emak, padahal Emak kan sayang sama aku, hiks...

Kenapa ya dulu aku jahat? sekarang kalau inget jadi sedihhhh n menyesaaalll banget, hiks......='( Tapi udah terlambat ya?! aku mau minta maaf juga udah ga bisa....sekarang cuma bisa berlaku baik sama orang lain sebelum menyesal kayak kejadianku sama Emak sayang dulu! Kadang aku bingung gimana caranya supaya penyesalan ini hilang...>,<

Emak, lin sayang banget sama Emak, maafin lin ya lin dulu jahat sama Emak padahal Emak sayang banget sama lin....maaf ya, lin ga bisa jadi cucu yang baik buat Emak...
Maaf kalau dulu lin pernah salah paham sama Emak. Dulu lin belum tau, dan lin masih terlalu labil...Lin baru sadar kalau lin udah jahat sama Emak setelah Emak meninggal dan lin udah ga bisa buat apa-apa lagi, cuma bisa minta maaf (bahkan Emak juga udah ga bisa denger maaf lin). Maafin lin ya Mak... ='(
lin sayaaaaaaang bangett sama Emak!!! pengen peluukkkk Emak >(^.^)<


Ini foto2 kenangan sama Emak sayang...




The Four Seasons of Life



Terlintas di pikiran saya bahwa kehidupan kita ini seperti sebuah pohon yang melalui 4 musim.

Musim semi,
Musim Panas,
Musim Gugur, dan
Musim Dingin...

Sepanjang tahun 4 musim ini selalu hadir (di negara tertentu sih tepatnya) dan tidak pernah absen, dan jangka waktunya pun stabil, yaitu setiap musim, kurang lebih berlangsung selama 3 bulan...
Kalau dipikir-pikir, dilihat dari keadaan fisik dan alam yang terjadi, kehidupan kita juga bisa diibaratkan seperti pohon pada 4 musim ini lho, namun durasi berlangsungnya musim-musim ini tidak tergantung dari lingkungan maupun alam di sekitar kita, namun sebaliknya, berasal dari dalam diri kita sendiri....

Pada saat kehidupan kita dihadapkan pada kegembiraan, kebahagiaan, dan kesuksesan, di sini jugalah kehidupan kita mengalami "musim semi". kita merasa sepertinya dunia ini indah, seakan kebahagiaan yang kita rasakan tidaklah sebanding dengan penderitan yang kita alami. Seperti pohon, ranting-ranting kita sedang ditumbuhi penuh oleh bunga-bunga indah yang bermekaran. Perasaan kita juga demikian berbunga-bunga dan senyuman tidak pernah absen di wajah kita. Misalnya saja, kelulusan, pernikahan, kelahiran anak, peringatan hari ulang tahun, dan peristiwa-peristiwa bahagia lainnya.

Pada saat kita dihadapkan dengan berbagai tugas, tekanan dan kesibukan di sinilah kehidupan kita memasuki musim panas. Meskipun pada kenyataannya, musim panas itu biasanya diasosiasikan dengan liburan, tapi jika dilihat, keadaan "panas", kita seperti pohon yang sedang "dibakar" oleh sinar matahari yang begitu terik. Matahari itu merupakan cerminan dari semangat, ambisi, niat, dan tekad kita. Maka dari itu saya mengibaratkan musim panas seperti kehidupan sehari-hari kita yang penuh dengan kesibukan. Kita dikejar-kejar target, dan kita berupaya pula untuk mewujudkan impian kita atau target kita itu.

Namun, saat target tidak tercapai, keinginan tidak terpenuhi, ditolak oleh orang-orang di sekitar kita, dan gagal dalam melakukan sesuatu, kita merasa kecewa, patah semangat dan seolah tidak ada harapan. Pada saat inilah kehidupan kita sedang mengalami "musim gugur". Kali ini bunga dan daun yang ada diranting-ranting mulai kering dan berguguran. Seperti kita saat merasa gagal, tidak dicintai, disingkirkan, dan ini semua serasa membuat hidup kita suram. Tidak jarang kita jadi patah semangat dan takut untuk mencoba kembali.

Lalu hadirlah "musim dingin". Musim dingin ini adalah saat kita merefleksikan diri kita yang sudah seperti pohon tanpa daun (ingat bahwa ada beberapa spesies yang menjalani hibernasi pada musim dingin?!?!) Sama seperti kita. Kita memikirkan kebaikan dan keburukan yang ada pada diri kita dan kita juga mempertimbangkan usaha-usaha apa yang kita lakukan yang membawa kita pada keberhasilan dan juga usaha-usaha mana yang tidak membawa keberhasilan. Di musim dingin ini juga peranan keluarga, teman-teman, dan semua orang yang dikasihi berperan penting. Karena dalam merefleksikan diri, kita tidak bisa hanya sendiri saja. Kita butuh masukan dan dorongan dari orang-orang di sekitar kita (ini seperti musim dingin yang biasa diasosiasikan sebagai "waktu kumpul-kumpul" keluarga saat natal, meskipun hal ini hanya terjadi di belajan dunia bagian utara). Gambaran kebersamaan dan perasaan didukung, dikasihi, dan dicintai inilah yang bisa membuat kita bangkit dari keterpurukan.

Lalu, setelah semua es meleleh (tahap refleksi diri hampir selesai dan dukungan orang sekitar mulai berkurang karena mereka menganggap kita sudah dapat berdiri lagi), kita bisa melihat kehidupan baru muncul dari balik-balik es yang tersisa. Kita melihat lagi rumput hijau dan bunga-bunga mulai bermekaran. Di sinilah kehidupan kita kembali memasuki "musim semi".

Keempat musim ini perlu kita alami karena setiap musim bisa memberikan pelajaran yang sangat berharga. Dan karenanya kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya. Namun terkadang, kita semua (tidak terkecuali saya sendiri) sering kali kurang peka. Tidak jarang saya mengeluh, menyesal, dan sedih. Kita sering tidak sadar bahwa segala kesulitan dalam hidup pasti dapat kita lalui. Berkat bantuan dari orang-orang yang kita kasihi yang senantiasa mendukung kita, kita tidak perlu merasa sendirian. Dan lebih dari itu, Tuhan selalu menyertai kita dalam segala hal, jadi dalam segala "musim" yang terjadi dalam hidup kita sebenarnya Dia tidak pernah meninggalkan kita, bahkan saat kita merasa bahwa kita sendirian.

Tetap SEMANGAT!!!! ^^v

Jika kamu tahu kalau kamu hanya tinggal memiliki SATU hari lagi hidup di dunia ini, apa yang akan kamu lakukan?!?!

Di tengah penatnya pikiran dan perasaan akhir-akhir ini, tiba-tiba tadi siang saat di perjalanan pulang terlintas sebuah pertanyaan yang terus terngiang-ngiang di kepala dan buat aku tidak tenang, jadi ya ditumpahkan dalam bentuk tulisan ini. Buat teman-teman yang mau baca boleh, sekalian di komen buat kasih masukan yaaa.....^^

Sebenarnya bukan pertanyaan pada judul di atas yang pertama kali terlintas. Tapi, tiba-tiba saja tadi siang, terlintas pemikiran seperti ini: "Rasanya orang meninggal tuh kayak apa ya?!?!" Soalnya, hal-hal yang berhubungan dengan kematian, sakit, dan perpisahan adalah hal-hal yang paling paling aku takuti dalam hidup ini. Tapi masalahnya, itu adalah bagian dalam hidup, mau tidak mau kita semua pasti mengalaminya. Padahal udah banyak pengalaman, tapi entah kenapa sampai sekarang aku masih takutnya setengah mati sama 3 hal tersebut (kalau diinget-inget lagi jadi sedih sendiri, hiks...).

Jadi ceritanya, setelah pertanyaan "Rasanya orang meninggal tuh kaya apa ya?!?!" itu muncul, langsung secara otomasis aku mengkaitkannya dengan diri sendiri. Aku pernah baca kutipan yang sangat bagussss yang sebenarnya juga menginspirasi tulisan ini juga (tapi nanti saja dikasih kutipannya di akhir cerita, hehe). Jadi intinya, aku jadi mikir, hidupku di dunia ini udah memberikan arti apa aja sih buat orang-orang di sekitarku?!?! apa ngga ada artinya sama sekali?!?! Apa selama ini aku sudah menjadi orang yang baik dan menyenangkan?? atau malah sebaliknya jahat, menyebalkan dan ngeselin?!?! Tapi sebagai orang normal dengan segala kebaikan dan kekurangannya, aku juga ngga luput dari kesalahan. Aku yakin pasti ada saja orang yang suka maupun ngga suka sama aku. Itu adalah hal yang sangat sangat manusiawi, bahkan Tuhan Yesus yang sangat baik sampai-sampai engga bisa dijelaskan dengan kata-kata, masih ada aja orang yang ngga suka dan sangat menginginkan kematian-Nya...


Trus aku jadi berpikir, seandainya aku cuma punya 1 hari lagi untuk hidup di dunia ini, aku mau ngapain ya?!?! Mungkin hal yang akan aku lakukan adalah nelponin orang-orang yang aku sayang satu-satu (kalo bisa conference akan lebih hemat waktu sebenernya, hehe). Aku mau bilang: "Aku sayang kalian....." Selain itu aku juga mau bilang: "Mungkin selama ini kalian ngerasa biasa-biasa aja, tapi sebenernya kalian ngga tau betapa aku menyayangi kalian, mungkin karena aku engga pernah menunjukkannya...." Kata-kata ini pertama-tama mau aku bilang ke keluargaku, soalnya dengan merekalah aku paling engga pernah menunjukkan, padahal keluarga sendiri tapi malu-malu kuda, wakakaka. Abisnya, keluargaku bukan keluarga romantis gitu sih, jadi aku juga bertumbuh dengan tidak romantis dhee, hahaha....
(Sebenernya nulis note ini ngga memberikan resolusi apa-apa sih, soalnya aku ngga bakalan bilang juga, tapi setidaknya sekedar melepas perasaan saja hehe).

Yahh, begitulah, misalnya aku benar-benar tau kapan hari terakhir itu, aku pasti ngomong ke semua orang yang aku sayang(sayangnya aku ngga pernah tau kapan aku "ehem...." dan kita semua emang engga pernah tau kapan kita akan "ehem..."), dan dengan mengatakan kata-kata itu, pasti pada hari terakhir itu aku merasa bahagiaaaa banget dan pastinya bebas dari beban, dan bisa pergi dengan tenang dan senyum merekah di wajah.

Nahhhh, ini dia nih kutipan ajaib yang bisa menginspirasi tulisan ini. Beginilah bunyinya kutipan itu:

"When you were born, you were crying
and everyone around you was smiling.
Live your life so that when you die,
you're the one who is smiling
and everyone around you is crying."

Kutipan ini memang benar-benar ajaib soalnya bisa membuatku meninggalkan halaman microsoft word-ku dan menulis cerita ini.....tapi tenang karena abis ini akan dilanjutkan, hehe....^^

Yahh, sekian lah cerita kali ini. Kalau ada teman-teman yang baca, boleh di komen-komen kasi masukan juga buat saya, kalau mau kritik dan saran-saran juga boleh...(kaya jualan buku: tuliskan kritik dan saran ke PO BOX 9189, wakakak....;p)

Jadi, jika kamu tahu kalau kamu hanya tinggal memiliki SATU hari lagi hidup di dunia ini, apa yang akan kamu lakukan?!?! Semoga kita semua bisa seperti kata-kata di kutipan "ajaib" ini yah.....^^



God Bless...

Cerita di Hari Jumat

Lagi-lagi di hari jumat aku mendapat pemandangan indah. Saat aku pulang dari kampus pagi ini, seperti biasa aku pulang dengan menaiki kendaraan besar berwarna orange biru dan kemudian di pemberhentian pertama yaitu pasar kopro, aku menaiki angkutan merah bernomor 12.

Di tengah perjalanan, tapatnya saat angkutan itu melewati daerah pasar patra, sepasang kakek nenek yang kira-kira sudah berusia lebih dari 70 tahun menaiki angkutan itu. Mereka membawa beberapa kantung belanjaan yang berisikan sayur-sayuran. Mereka bergantian menaiki angkutan tersebut dan Sang kakek mempersilahkan istrinya naik terlebih dahulu. Dengan tubuhnya yang sudah renta dan kantung belanjaan yang mereka bawa, mereka menaiki angkutan itu dengan perlahan-lahan. Setelah mereka duduk, si sopir angkot menjalankan kembali angkotnya.

Kuperhatikan sepasang kakek nenek ini sepertinya sangat menikmati keadaannya, meskipun mereka sudah renta. Mereka sedikit berbincang-bincang, tersenyum dan tertawa satu sama lain. Memang tidak lama sepasang kakek nenek ini berada di dalam angkot, karena sepertinya mereka salah menaiki angkot. Saat tiba di pertigaan jalan yang dahulu terdapat sekolah TK milik Kak Seto (yang sekarang sudah tutup, entah pindah kemana), sang nenek tersadar bahwa mereka menaiki angkutan yang salah (karena angkutan ini berbelok ke kanan dan seharusnya mereka menaiki angkutan yang belok ke kiri).

Dengan logat jawanya sang nenek bilang: "Ehh....stop stop...kok belok sini ya?!?! salah nii, rumahnya di sebelah sana..." si sopir pun mengkentikan mobil. Akhirnya mereka berdua turun, kali ini sang kakek yang turun terlebih dahulu. Sama seperti saat mereka naik, mereka pun turun dengan perlahan-lahan (maklum lah, sudah tua). Saat sang nenek ingin turun, dari luar mobil, sang kakek membantu istrinya turun. Ia memegangi tangan istrinya sampai ia turun sepenuhnya.

Setelah itu, nenek itu membayar "abang" angkot kemudian berbalik ke arah rumahnya. Setelah mobil kembali berjalan, terlihat mereka berdua yang sedang berjalan menuju arah yang berlawanan dengan mobil angkot. Sang kakek menggandeng istrinya dan mereka berjalan perlahan-lahan.

Mengapa hal sesederhana ini kuanggap sebagai pemandangan indah?!?!
Aku mencoba merenungkan kehidupan sepasang kakek nenek itu. Mereka adalah 2 individu yang berbeda. Pria dan wanita adalah perbedaan dasarnya. Disamping itu masih banyak lagi perbedaan yang mereka miliki. Disamping perbedaan itui mereka memutuskan bahwa satu sama lain adalah pasangan hidupnya. Mereka hidup saling mengasihi sampai setua itu, itulah yang dinamakan sebuah perkawinan. "love each other, for better for worse". Aku memang tidak tau apakah keadaan "better" yang mereka alami dan "worse" yang juga mereka hadapi.

Memang sebenarnya tidak boleh menilai hanya dalam sekali pandang saja, kita harus mengobservasi lebih banyak baru boleh menarik kesimpulan. Namun untuk masalah pandangan yang "kebetulan" ini kan tidak bisa direncanakan, dan kapan akan bertemu mereka lagi juga tidak tahu...jadi, yahh sekilas saja saya mencoba menganalisis, hehehe, bahwa mereka masih saling mencintai satu sama lain...
Ada sebuah kutipan yang aku baca entah dimana. Kutipan itu berbunyi: Dalam sebuah pernikahan seharusnya adalah "mencintai walaupun...." dan bukan "mencintai karena....."
Sepasang kakek nenek ini pastinya telah berhasil mencintai walaupun pasangannya memiliki banyak kekurangan. Ya memang, tidak ada orang yang sempurna kan?!?!
Ya, untuk sebuah hubungan suami istri memang seharusnya seperti itu. Namun, sebelum kita bisa belajar "mencintai walaupun", namun biasanya perasaan yang muncul terlebih dahulu adalah "mencintai karena"....jadi gimana donk?!?!

Mengingat kata-kata seorang dosen, saat membahas masalah KDRT: "makanya kalo cari suami di tes dulu, pake tes fit and proper test."
meskipun nada bicaranya hanya bercanda, kalau dipikir-pikir benar juga kata-katanya itu, akan tetapi, bertentangan sekali ya dengan istilah "mencintai walaupun" bukankah begitu?!?!
Hm.....sebenarnya, ini sungguh membingungkan, tapi begitulah hidup. Kita dihadapkan pada pilihan dan kita bebas memilih sesuai dengan konsekuensinya masing-masing.

Jadi pertanyaannya adalah kapan kita bisa dengan yakin memilih untuk "mencintai seseorang walaupun...." ?!?!
Moga-moga, saya pribadi bisa menerapkan keduanya, "fit and proper test" dan "mencintai walaupun" itu supaya nanti bisa seperti sepasang kakek nenek yang kulihat pagi ini, mencintai satu sama lain selama-lamanya...
" for better for worse, for richer, for poorer, in sickness and in health...
To love and to cherish till death do us part" ^^

Good Day Everybody..... ;D

Colin mau cerita: Count My Today's Blessings - Thank You LORD for You are my strength! ^^

Hari ini aku senang sekali, semuanya terasa berjalan begitu lancar....
Dimulai dari saat kumembuka mata di pagi hari, tak sadar ternyata jam telah menunjukkan pukul 06.45. Hari ini perkuliahan dimulai pada pukul 08.00, dan biasanya, kalau aku terbangun bangun pada pukul 06.30 saja, aku akan terburu-buru sekali. Tetapi hari ini rasanya begitu lancar, aku lalu pergi mandi, makan, dan bersiap-siap dan sama sekali tidak terburu-buru. Meskipun pada akhirnya aku berangkat dari rumah pukul 07.40, aku juga tetap tidak terlambat masuk ke kelas. Padahal biasanya, kalau berangkat pukul 07.30 saja, waktu sampai di kampus, aku harus berjalan terburu-buru, dan yang pastinya tubuh mengeluarkan banyak keringat, tapi hari ini, itu TIDAK terjadi.

Kuliah hari ini pun berjalan lancar. Setelah selesai kelas, aku pergi ke perpustakaan bersama salah seorang teman untuk mengerjakan sedikit tugas, baru setelah itu aku pulang. Hari ini, aku juga tidak lupa mengambil foto-copy-an yang di titipkan di tempat fotocopy. Saat berjalan menuju keluar, hujan rintik-rintik turun. Tentu saja aku senang karena tidak perlu berpanas-panas ria seperti biasanya, meskipun agak sedikit basah karena rintikan hujan itu (malas buka payung).

Hari ini,aku pulang tidak di jemput oleh siapapun, jadi harus pulang sendiri naik BUS. Begitu aku keluar pintu gerbang, tak perlu menunggu lama, BUS bernomor 91dan berwarna orange-biru itu pun nampak. Aku naik, dan duduk. Di dalamnya hanya ada 2 orang penumpang, seorang kenel, dan seorang sopir, dan kemudian aku sendiri. Baru kali ini, saat menaiki BUS metromini, aku merasa sangat nyaman berada di dalamnya. BUS itu tidak "ugal-ugalan" seperti layaknya BUS kota lain yang saling bersaing, bahkan si supir yang nampaknya telah berusia mendekati paruh baya, dan mengenakan kemeja putih kotak-kotak itu mempersilahkan mobil lain yang ingin mendahuluinya. Ini sungguh tidak biasa.

Hal lain mengenai si supir BUS itu yang membuat ku terkejut adalah, saat seorang penumpang, seorang wanita yang bertubuh agak gemuk, ingin turun dari BUS, supir itu dengan sopan mengatakan, "ati-ati, liat belakang ya..." Oh, ternyata masih ada supir metromini yang punya belas kasihan seperti dia. Singkat cerita, sampailah aku pada pemberhentian pertama, yaitu Pasar Kopro. Aku turun, dan supir yang sepanjang perjalanan merokok itu benar-benar menghentikan BUS-nya saat penumpangnya ingin turun. Sungguh ajaib bukan?!?!

Setelah itu, selanjutnya aku harus menaiki angkutan umum berwanra merah dan bernomorkan 12 supaya aku bisa sampai di rumah. Di Pasar itulah aku menaiki angkutan tersebut. Ini juga termasuk hal yang tidak biasa. Angkutan itu dengan segera terisi penuh, dan kemudian angkutan siap berjalan. Dan oh.....satu hal lagi yang membuah saya merasa bahwa hari ini berjalan sangat lancar adalah, angkot itu berjalan dengan kecepatan seharusnya, layaknya mobil-mobil lain. Padahal biasanya, aku harus mengelus-elus dada dulu kalau ingin menaiki angkutan itu. Pasalnya, biasanya angkutan itu berjalan sangaaaaaat lambat, seperti siput, dan di dalam hati biasanya aku sudah kesel setengah mati, rasanya ingin gantiin si supir aja deh, pasti lebih cepet sampai!!! Tapi hari ini, dengan tidak biasa, pikiran itu tidak muncul..

Dan sampai di rumah, rasanya kepingin cerita, tapi nggak tau harus cerita sama siapa, jadi yahh.....ditumpahkan saja disini....
HHmmm...andai setiap hari aku bisa bersyukur seperti ini, maka hidup akan terasa lebih ringan bukan?!?! Semoga, mulai sekarang, aku akan menghitung berkat apa saja yang sudah kuterima setiap harinya. ^^

Jadi teringat sebuah email yang dikirimkan oleh seorang teman anggota koor, bahwa Tuhan memberikan
2 kotak pada kita. Kotak yang pertama berwarna emas, dan yang lainnya berwarna hitam. Tuhan berkata: "Taruhlah seluruh kesedihanmu di dalam kotak hitam, dan segala kebahagiaanmu di dalam kotak emas." Maka aku menaruhnya pada kotak-kotak itu. Akan tetapi, setiap harinya, kotak yang berwarna emas semakin berat, sedangkan kotak yang berwarna hitam menjadi semakin ringan. Dan saat kubuka kotak-kotak itu, ternyata, kotak yang berwarna emas terisi penuh, sedangkan kotak yang berwarna hitam kosong, dan ada lubang di dasar kotak tersebut.

Maka suatu hari aku bertanya pada Tuhan, kemana semua kesedihanku? Tuhan pun menjawab: "Mereka semua ada padaKu." mengapa demikian, mengapa Engkau bemberiku kotak dengan lubang di bawahnya? Tuhan menjawab: "Anakku, kotak emas itu adalah tempat dimana kamu menghitung berkat yang kau terima,sedangkan kotak hitam itu adalah tempat dimana kamu melepaskan segala kesedihanmu."

Ya, Tuhan memang baik, jika kita memang sadar akan kebaikannya. Tuhan akan memberikan apa yang kita butuhkan, menghibur kita di saat sedih, dan Dia tidak akan pernah melepaskan tangan kita, meskipun kita ingin melepasnya. Jadi mulai sekarang, aku akan mencoba untuk "count my blessings" setiap harinya, dan menyerahkan padaNya segala kekhawatiran ketakutan, dan kesedihanku, biar Dia dan hanya Dialah yang bekerja dalam hidupku.....

Have a good day.....^^

I Have Fallen In Love (With Same Woman Three Times)


Baru saja 2 hari yang lalu selesai mendownload album barunya Christian Bautista berjudul Romance Revisited. Di dalam album ini, Bau'' menyanyikan lagu-lagunya Jose Mari Chan. Ada satu lagu yang judulnya "I have fallen in love (with the same woman three times)", lagunya baguuusssss sekali...

Lagu ini lembut, mengalir serta liriknya menggambarkan tentang cinta seorang pria kepada istrinya. Di sini digambarkan cinta, kesetiaan, ketulusan, dan ketegaran seorang wanita...Untuk saya pribadi, pertama kali baca liriknya, nggak sengaja sampai menitikkan air mata...

Dan ternyata, lagu ini dibuat berdasarkan puisi yang ditulis oleh seorag suami bernama Ninoy Aquino Jr.untuk istrinya Cory (Corazon) Aquino, mantan presiden Filipina. Lagu ini benar-benar memiliki makna yang sangat dalam....cocok buat semua kaum baik pria maupun wanita!!




I recommended this lovely song to all my friends, it is really touching, you must listen to this song!!! ^^

Berikut adalah lirik lagunya:

I Have Fallen In Love (With the Same Woman Three Times) - LYRICS

I have fallen in love
with the same woman three times;
In a day spanning 19 years
of tearful joys and joyful tears.

I loved her first when she was young,
Enchanting and vibrant, eternally new.
She was brilliant, fragrant,
and cool as the morning dew.

I fell in love with her the second time;
when first she bore her child and mine
always by my side, the source of my strength,
helping to turn the tide.

But there were candles to burn
the world was my concern;
while our home was her domain.
and the people were mine
while the children were hers to maintain;

So it was in those eighteen years and a day.
’till I was detained; forced in prison to stay.
Suddenly she’s our sole support;
source of comfort,
our wellspring of Hope.
On her shoulders felt the burden of Life.

I fell in love again,
with the same woman the third time.
Looming from the battle,
her courage will never fade
Amidst the hardships she has remained,
undaunted and unafraid.
she is calm and composed,
she is God’s lovely maid.