Al-Fatihah dan Tauhid
Syaikh al-Utsaimin rahimahullah berkata, “al-Fatihah adalah Ummul Qur’an; dikarenakan seluruh maksud ajaran al-Qur’an terkandung di dalamnya. Ia telah mencakup tiga macam tauhid. Ia juga mencakup penetapan risalah, hari akhir, jalan para rasul dan jalan orang-orang yang menyelisihi mereka. Segala perkara yang terkait dengan pokok-pokok syari’at telah terkandung di dalam surat ini. Oleh karena itu ia disebut dengan Ummul Qur’an.” (lihat Syarh al-Mumti’ [2/82])
Mengapa Kita Harus Berdakwah?
[1] Dakwah merupakan jalan hidup Rasul dan pengikutnya
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah, Inilah jalanku; aku menyeru kepada Allah di atas landasan ilmu yang nyata, inilah jalanku dan orang-orang yang mengikutiku…” (QS. Yusuf : 108).
Donasi Ma’had Al-‘Ilmi
Oleh sebab itulah, memberikan perhatian yang cukup besar terhadap perkembangan dan keberlangsungan Ma’had ini adalah sesuatu yang sangat wajar bagi kita, para pemerhati dakwah kampus di Indonesia pada umumnya.
Mutiara Akidah Shahih Bukhari (2)
Bab 11. Ilmu dan Ketakwaan Kepada Allah
Imam Bukhari rahimahullah menuturkan: Muhammad bin Salam menuturkan kepada kami. Dia berkata: ‘Abdah mengabarkan kepada kami, dari Hisyam, dari ayahnya, dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha, beliau berkata: Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila memerintahkan mereka untuk beramal maka beliau memerintahkan amalan yang sanggup untuk mereka kerjakan. Namun, mereka mengatakan, “Sesungguhnya keadaan kami tidak seperti keadaan engkau wahai Rasulullah. Karena Allah telah mengampuni dosamu yang terdahulu dan yang kemudian.” Maka beliau pun marah hingga tampak kemarahan itu di raut wajahnya. Kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya yang paling bertakwa dan paling berilmu diantara kalian adalah aku.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-Iman [20])
Kobarkan Semangatmu!!
Oleh : Ust. Fauzan bin Abdillah –hafizhahullah–
Segala puji bagi Alloh ta’ala yang telah memberikan kepada umat manusia beragam kenikmatan kepada mereka agar mereka dapat bersyukur kehadirat penciptanya. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan Nabi besar Muhammadshallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah membimbing umatnya dan mengarahkan mereka kepada jalan kebaikan yang berakhir di syurga yang penuh kenikmatan yang tiada tara, juga kepada para sahabatnya serta orang-orang yang senantiasa setia dan berpegang teguh di atas jalan mereka. Amma ba’du
Mengenal Jalan Lurus
Setiap hari dalam sholat kita senantiasa memohon kepada Allah untuk diberikan hidayah kepada jalan yang lurus. Hal itu menunjukkan bahwa petunjuk menuju jalan lurus adalah kebutuhan yang sangat kita perlukan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tunjukilah kami jalan yang lurus. Yaitu jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat.” (QS. al-Fatihah: 5-7)
Mutiara Akidah Shahih Bukhari (1)
Bab 1. Pilar-Pilar Keimanan
Imam Bukhari rahimahullah menuturkan: ‘Ubaidullah bin Musa menuturkan kepada kami. Dia berkata: Hanzhalah bin Abi Sufyan mengabarkan kepada kami. Dari ‘Ikrimah bin Khalid, dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma. Beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam dibangun di atas lima perkara: persaksian bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Ramadhan.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-Iman [8])
Sebab Utama Meraih Ampunan
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan akan mengampuni dosa-dosa lain di bawah tingkatan syirik, yaitu bagi orang-orang yang Allah kehendaki.” (QS. an-Nisaa’: 48)
Manisnya Iman
Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga perkara; barangsiapa yang ketiga hal itu ada pada dirinya niscaya dia akan merasakan manisnya iman. Orang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada selain keduanya. Dia mencintai seseorang semata-mata karena kecintaannya kepada Allah. Dia tidak suka kembali kepada kekafiran setelah Allah selamatkan dia darinya, sebagaimana dia tidak suka dilemparkan ke dalam kobaran api.” (HR. Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43)