Jokowi-Ahok-Syahrini di Champ de mars

Matahari bulan April di kota Paris tidak mampu mengusir angin dingin yang menusuk sekujur muka dan tubuh.
Paris.. City of love katanya.. and it’s best city icon.. Eiffel!.. of course..
Taman Champ de mars disekitar Eiffel menjadi tempat yang paling favourite bagi turis asing maupun local untuk berfoto. Selain itu Menara Eiffel juga bisa dinikmati melalui kapal pesiar yang menyisir sepanjang sungai Seine..
Yang menarik perhatian adalah para penjaja kaki lima yang kebanyakan berkulit hitam legam menawarkan souvenir dan pashmina..begitu tahu kami dari Indonesia, dengan fasihnya mereka berteriak …”Sepuluh Euro Dua.. Sepuluh Euro Dua..” untuk 2 Pashima dihargai 10 euro..:) karena kami kurang mengacuhkan, jurus lain pun dikeluarkan.. “Murah.. murah… Jokowi.. Ahok.. ahok…” .. Hahhhh ternyata update juga nih orang.. Kami hanya tersenyum dan terus berjalan.. Masih terus gigih berjualan, mereka pun teriak lagi “Syahrini.. murah.. murah 10 Euro”.. Tawa kamipun pecah..3 Pashmina akhirnya berpindah tangan ditukar dengan 10 Euro.. he..he..

Temanku disangka teroris!

Meskipun aku belum membaca buku “Temanku teroris” karangan Noor Huda Ismail, namun membayangkan disangka teroris saja sudah cukup menakutkan.

Bermula dari kisah temanku Ely dan suaminya yang sedang mencari kontrakan rumah, dikarenakan rumah yang sekarang dihuni akan dijual oleh pemiliknya.
Setelah cukup lama mencari, akhirnya didapatlah sebuah rumah sederhana berukuran tidak lebih dari 96 m2 di sebuah tempat terpencil di daerah serpong. Harga pun telah disepakati oleh kedua belah pihak dan Karena sudah harus angkat kaki dari kontrakan rumah yang lama, maka temanku berkeras segera menempati kontrakan baru pada malam itu juga..
Begitu mobil pick-up yang membawa sebagian barang-barang tiba di-depan rumah kontrakan yang baru, terlihat beberapa warga sekitar menghadang.
Ely : “Ada apa pak” ?
Pemilik kontrakan : “Maaf Bu, kami keberatan Bapak dan Ibu pindah kesini, jika tidak ada alasan yang jelas”
Ely : “Lho, memangnya kenapa pak?”
Pemilik kontrakan : “Yaaa.. ngggg.. karena warga curiga dengan kepindahan yang tiba-tiba ini.. warga takut kalau Bapak dan Ibu adalah teroris!”
Ely : “Teroris?”
Pemilik kontrakan : “Ya.. teroris.. karena Ibu memakai jilbab yang panjang dan Bapak juga berjenggot..”
Ely : “Astagfirullah..”

Setelah mendapat penjelasan yang panjang dan surat keterangan dari ketua RT rumah kontrakan yang lama, Ely dan suaminya akhirnya baru bisa menempati rumah tersebut keesokan harinya. Alhamdullilah.

A Place called home (1)

Tidak terasa Sudah hampir 6 bulan, rumah kami yang sederhana diratakan dengan tanah dan akan segera menjelma menjadi sebuah rumah yang bagi kami sungguh adalah suatu anugerah (Alhamdullilah.. Allah yang rahman dan rahim).

Dahulu, dari dalam rumah inilah banyak kisah mengalir. rumah yang dihuni oleh sembilan anggota keluarga, bisa bayangkan betapa hiruk pikuknya setiap pagi. Aku berangkat kuliah, adik-adik ke sekolah, orang tua ke toko.. dan kemudian Aku kerja, adik-adik mulai kuliah, orang tua masih tetap ke toko.. Babak berikutnya satu persatu anggota keluar dari rumah tersebut, Aku dan adik-adikku menikah dalam waktu yang berdekatan. dan masih.. orang tua tetap ke toko..

Sampai akhirnya rumah tersebut kosong..Orang tua pindah ke Perumahan alam sutera dan rumah kembali ditempati oleh Aku, suami dan anak-anak.. Karena rumah sudah cukup tua, akhirnya kami memutuskan untuk membangun kembali rumah tersebut (dengan seijin Allah).

Rasanya sudah tidak sabar ingin segera menempati rumah kami yang baru.. seperti apa ya rupanya?